Proses buka-bukaan benar-benar dilakukan oleh Myanmar. Seusai membuka sektor politik negara tersebut mulai meliberalisasi industri telekomunikasi yang selama beberapa dekade dikendalikan negara
Seperti dikutip dari The Nation, langkah pertama liberalisasi industri telekomunikasi Myanmar adalah dilepasnya kartu telepon selular senilai 5.000 kyat setara US$6, seratus kali lebih murah daripada yang tersedia saat ini.
Menurut Naing Oo Lwin, bos Shwe Pyi Tagon Co Ltd, kartu perdana super murah tersebut akan dijual pada minggu pertama Maret 2012. “Awalnya kami akan menjual 1 juta 3G Kartu SIM dengan harga hanya 5.000 kyat.”
Telekomunikasi secara ketat dikontrol oleh penguasa, yang berada di bawah junta antara 1988 dan 2010. Jaringan telepon selular di Burma telah terisolasi selama beberapa dekade, saat ini harga kartu perdana telepon selular senilai sekitar 500.000 kyat.
Oo Lwin Naing mengatakan layanan mobile baru 40% dimiliki oleh pemerintah, 30% oleh Shwe Pyi Tagon, dan sisanya 30% oleh provider lain.
“Kita mulai dengan 3G, maka kita akan menerapkan untuk 4G dalam waktu satu tahun. Dalam lima tahun, kami berencana untuk memproduksi 30 juta kartu SIM 4G untuk cakupan komunikasi 100%,” katanya.
Meski demikian tidak jelas apakah layanan baru Shwe Pyi Tagon itu telah menerima persetujuan pemerintah. (LN) (Sumber: BISNIS)


